fans

Senin, 24 November 2025

SAINT MARY'S WAAAAAYYY

As a student, I had the opportunity to participate in a community service program called Saint Mary's Way. The program aimed to teach us the value of serving others and following the example of Mother Mary. I was assigned to serve at a daycare center, where I spent three days helping the teachers and interacting with the children.

The daycare center was located in the Komplek Sekolah Ahmad Yani. I was a bit nervous at first, but the teachers and children quickly made me feel welcome. The children were energetic and playful, and it was a joy to watch them learn and grow. I helped the teachers with various tasks, such as preparing meals, assisting with homework, and playing games with the children.

For three days, we shared the tasks. The girls were in charge of keeping the children company, while the boys were in charge of helping Mrs. Lugi in the kitchen, preparing the children's meals. At first, I was afraid of feeling awkward around the children. I was afraid they wouldn't like meeting strangers, but the opposite was true. The children welcomed me enthusiastically. Fortunately, my fears were unfounded. I played with them until mealtime. There were several games for them to play, such as puzzles, blocks, and coloring. I accompanied them by helping them build houses, building Lego, and listening to their sometimes absurd but funny stories.

When mealtime arrived, they would wash their hands first. After that, they lined up to get their food. The menu was different every day so the children wouldn't get bored. There was fried rice, soup, and fruit for dessert. After they finished getting their food, they sat at a long table in the middle of the room. I accompanied them while they ate. It turned out that eating with small children was fun. There was always something that could make us laugh, like when one of the children tried to feed me with a spoon or when another child started singing a silly song.

After eating, they lined up to the tap with their cutlery to be washed. Afterward, they went back to playing. My task was complete by then, as it was already 3 p.m. Every time we parted, someone always didn't want me to leave, but I assured them that I would still greet them and play with them again soon. Although tiring, this experience was quite enjoyable and taught me a new life lesson. My usually impatient self became more patient and I tried to be more understanding of others' circumstances. I realized that sometimes, all someone needs is someone to listen to them and play with them. I felt happy knowing that I could make a difference in their day, even if it was just for a short time.

As I reflected on my experience, I realized that it was not just about the children, but also about me. I learned to appreciate the little things in life and to be more present in the moment. I was grateful for the opportunity to serve and to learn from the children. I hoped that I could continue to make a positive impact in the lives of others, just like the children had done for me.

🌟Kasih Bunda Maria di Tengah Kesibukan🌟

Setiap manusia pasti pernah merasakan masa kecil. Dan di masa-masa tersebut, tentulah kita memiliki orang-orang terdekat kita yang selalu menemani kita. Saat kita masih kecil, mungkin saja tanpa sadar kita menyusahkan mereka, namun sekuat tenaga mereka menyembunyikan rasa lelah mereka dengan senyuman tulus hanya untuk melihat kita bahagia.

Saint Mary's Way ini sendiri merupakan suatu kegiatan yang diadakan untuk mengajak anak-anak muda(yaitu anak kelas 9) untuk melakukan pelayanan guna meneladani teladan Bunda Maria. Kegiatan ini dilaksanakan selama hampir kurang lebih 1 bulan. Terdapat beberapa pilihan kegiatan yang dapat kami lakukan yaitu melayani di gereja, ikut membantu di panti asuhan ataupun wredha, dan sebagainya. Pada awalnya saya bergabung dengan kelompok yang akan melayani di Panti Werdha Nazareth. Saya telah mengikuti tahap perencanaan dan hanya tersisa tahap pelaksanaan. Namun, sayangnya saya tidak bisa mengikuti pelaksanaannya karena saya demam. Akhirnya, saya pun membantu di Daycare atau tempat penitipan anak di Komplek Sekolah Ahmad Yani.

SEE :

Saya dan teman-teman saya yang juga tidak bisa mengikuti tahapan pelaksanaan pun ditugaskan untuk membantu para guru di Daycare selama 3 hari. Pada awalnya, saya merasa canggung dengan anak-anak di tempat penitipan anak. Namun, ternyata tidak butuh waktu lama untuk berbaur dengan mereka. Selama 3 hari, terdapat banyak kegiatan yang kami lakukan. Di antaranya adalah menemani mereka untuk bermain, juga saat makan bersama. Banyak cerita-cerita menarik dari mereka. Di usia mereka yang masih dalam pertumbuhan, terkadang membuatku kewalahan dengan seberapa aktifnya mereka. Temanku yang laki-laki membantu para guru di dapur sedangkan aku da Vidy menemani anak-anak untuk bermain dan juga makan. Walau mereka masih kecil-kecil, mereka sudah bisa makan sendiri dan juga mencuci piring makan mereka sendiri. Mereka juga selalu berbaris dengan rapih dan tertib saat ingin mengambil makanan. Pada awalnya, rasa lelah belum terasa namun pada hari ke-3, rasa lelah mulai terasa. Walau begitu, banyak pengalaman tak terlupakan bersama mereka. Celotehan-celotehan dari mereka menjadi hiburan tersendiri bagiku.

JUDGE :

Dari pengalaman ini saya merasakan bahwa Tuhan telah memanggil saya untuk melakukan pelayanan ini. Seperti pada ayat 1 Petrus 4:10 yang menyebutkan “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.” Pelayanan yang telah saya lakukan berupa membantu para guru sendiri telah menjadi perwujudan nyata dari ayat tersebut. Dari pelayanan ini, saya belajar untuk lebih sabar dalam menghadapi anak-anak. 

ACT :

Dari kegiatan pelayanan ini, saya pun berkomitmen untuk bersikap baik pada siapapun yang saya temui. Memang mungkin terasa sulit, namun rasanya semua orang berhak mendapatkan kasih Tuhan secara nyata dalam hidup mereka. Dan tentunya, kita dapat menyalurkan kasih Tuhan dengan tindakan-tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, marilah mulai hari ini kita melayani sesama kita tanpa memandang latar belakang mereka.

Maka dari itu, marilah mulai hari ini kita melayani sesama kita tanpa memandang latar belakang mereka. Kita dapat memulai dengan hal-hal kecil, seperti memberikan senyuman, membantu orang lain, atau hanya dengan mendengarkan cerita mereka. Setiap tindakan kecil kita dapat membuat perbedaan besar dalam hidup orang lain.

Saya berharap bahwa pengalaman saya ini dapat menjadi inspirasi bagi orang lain untuk melakukan pelayanan dan melayani sesama kita. Kita semua memiliki karunia dan kemampuan yang unik, dan kita harus menggunakan karunia tersebut untuk membuat perbedaan dalam hidup orang lain.
Dalam pelayanan ini, saya juga belajar tentang pentingnya kerja sama dan tim. Kami bekerja sama sebagai tim untuk memastikan bahwa anak-anak di Daycare mendapatkan perawatan dan pendidikan yang terbaik. Kami berbagi tugas dan tanggung jawab, dan kami saling mendukung satu sama lain.

Saya juga belajar tentang pentingnya komunikasi yang efektif. Kami harus dapat berkomunikasi dengan anak-anak, orang tua, dan guru-guru dengan cara yang efektif dan sopan. Kami harus dapat memahami kebutuhan dan keinginan mereka, dan kami harus dapat menyampaikan informasi dengan jelas dan akurat. Saat mengasuh, sempat terjadi kesalahpahaman antara aku dan Kenneth hingga membuat dia menangis. Dari kejadian tersebut, aku menyadari bahwa anak-anak belum tentu bisa mengerti secara penuh tentang apa yang kita bicarakan. Untungnya, Kenneth dapat ditenangkan sehingga aku bisa bermain dengannya lagi. Membagi perhatian terhadap anak-anak tersebut juga butuh keterampilan agar tidak ada yang terabaikan.

Dalam pelayanan ini, saya juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan saya dalam menghadapi tantangan dan kesulitan. Kami menghadapi banyak tantangan dan kesulitan, namun kami tidak menyerah. Kami bekerja sama dan mencari solusi bersama-sama.

Saya sangat berterima kasih atas kesempatan untuk melakukan pelayanan ini. Saya telah belajar banyak hal dan saya telah tumbuh sebagai pribadi. Saya berharap bahwa saya dapat terus melakukan pelayanan dan melayani sesama kita di masa depan.

Pelayanan di Daycare telah menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Saya telah belajar banyak hal dan saya merasa mengembangkan pribadi saya yang lebih baik. Saya berharap bahwa pengalaman saya ini dapat menjadi inspirasi bagi orang lain untuk melakukan pelayanan dan melayani sesama kita. Kita semua memiliki karunia dan kemampuan yang unik, dan kita harus menggunakan karunia tersebut untuk membantu dan hadir sebagai berkat dalam hidup orang lain.




Rabu, 19 November 2025

Saint Mary's waaaaayy

 haloooooooo, kembali lagi di blog brapstrurtutuutututut wihihihi. Di postingan kali ini, aku akan menceritakan pengalaman aku saat melaksanakan kegiatan Saint Mary's Way. Dari tahap pembagian kelompok hingga pelaksanaan akhirnya. SOoOOOooOoOooOoo, tanpa banyak ba-bi-bu lagi, selamat membaca!

Saint Mary's Way ini sendiri merupakan kegiatan bagi kelas 9 sebagai pengganti kegiatan berkemah yang diikuti oleh anak kelas 7 dan 8. Kegiatan Saint Mary's Way ini sendiri bertujuan untuk mengajak anak-anak untuk melayani dan berbagi kasih kepada sesama. Terdapat berbagai pilihan kegiatan yang ditawarkan yaitu, membantu di gereja, mengunjungi panti asuhan maupun werdha, mengikuti paduan suara, dan sebagainya. Aku sendiri memilih untuk mengunjungi Panti Werdha Nazareth bersama kelompokku. Awalnya, terdapat 3 kelompok yang akan pergi ke panti baik asuhan maupun werdha. Namun, terdapat 1 kelompok yaitu Kelompok Alben dan kawan-kawannya yang kemudian bergabung dengan kelompok kami dikarenakan panti werdha yang ingin mereka kunjungi tidak dapat dikunjungi. Alhasil, kelompok kami yang merupakan gabungan dari 2 kelompok menjadi kelompok dengan anggota terbanyak. 

Tahapan paling awal yang kami lakukan sendiri ialah membuat sebuah proposal untuk mengunjungi Panti Werdha Nazareth. Setelah proposal selesai dibuat, diserahkan, dan disetujui, barulah kami merencanakan apa saja kegiatan yang akan kami laksanakan di Panti Werdha Nazareth tersebut. Kami semua berkumpul di ruang kelas 9.3 untuk mendiskusikan hal-hal dan susunan acara yang akan kami lakukan. Selain itu, kami juga mencicil pembuatan salindia yang nantinya akan dipresentasikan di aula dan ditonton oleh orang tua murid. Setelah tahap perencanaan, kami pun menentukan tanggal pelaksanaan dan waktu kumpulnya. Saat itu, kelompokku melaksanakannya pada hari Sabtu, namun, dikarenakan aku mengalami demam karena kehujanan pada hari Jumat nya, aku pun tidak dapat ikut ke Panti Werdha Nazareth. Sebagai gantinya, aku dan beberapa teman lain yang juga tidak dapat mengikuti pelaksanaan dikarenakan alasan masing-masing, ditugaskan untuk membantu para guru di Daycare Nice di dalam kawasan Sekolah Komplek Ahmad Yani. 

Walaupun aku tidak ikut ke Panti Werdha, namun aku tetap ikut saat presentasi bersama mereka. Setelah presentasi, kami semua pun ditugaskan untuk membuat refleksi di sebuah HVS mencakup See, Act, dan Judge. Yang kemudian, kertas refleksi tersebut ditempelkan di mading sekolah.

Aku, Vidy, Putra, Zevan, dan juga Niko ditugaskan untuk membantu para guru selama 3 hari dari Hari Selasa hingga Kamis. Awalnya, terdapat rasa canggung dan sedikit bingung ketika pertama kali bertemu mereka. Aku merasa takut jika nantinya aku malah menakuti mereka. Tapi syukurlah, ternyata mereka dan aku dapat dengan cepat berbaur. Aku pun menemani mereka bermain hingga makan bersama. Awalnya memang terasa menyenangkan, namun jika boleh jujur, ternyata berurusan dengan anak-anak kecil yang masih aktif-aktifnya cukup menguras tenaga. Ditambah lagi, aku mengurus mereka sepulang sekolah yang di mana rasa lelah setelah bersekolah masih melekat di tubuh. Walau begitu, aku tetap senang dapat bermain dengan mereka <333

Dari kegiatan ini sendiri, aku pun secara langsung meneladani teladan dari Santa Maria, yaitu Penyabar, Rendah Hati, dan juga Melayani Sesama. 




It Was 2025

Tidak terasa bahwa 1 semester telah aku lewati dengan banyak hal yang terjadi. Walau terasa melelahkan namun aku tetap bersemangat karena te...